Ayahku Lari Dengan Perempuan Simpanannya Dihari Aku Lahir ke Dunia, Setelah Ibuku Meninggal, Dia Kembali Dan Minta Permintaan yang Melampau Ini!

Ayahku Lari Dengan Perempuan Simpanannya Sebaik Sahaja Aku Lahir ke Dunia. 20 Tahun Kemudian Ibuku Meninggal, dan Dalam Masa Sama Dia Kembali ke Rumah Kami Semula. Tapi Kedatangannya Hanya Untuk Meminta Permintaan yang Melampau Ini..

Sebelum menikah dengan isteriku, aku tahu bahawa ia dibesarkan oleh ibunya. Untuk ayahnya, aku pernah bertanya sekali. Isteriku menjawab bahawa ia tidak tahu apa rasanya mempunyai ayah. Ia tidak pernah memanggil kata “ayah”, ia tidak tahu ayahnya seperti apa.

Orangtua saya sudah meninggal, sedangkan isteriku hanya mempunyai ibu, sehingga kami mengajaknya untuk tinggal bersama.

Tubuh ibu mertuaku tidak baik, ia telah makan obat bertahun-tahun. Di rumah, kami tidak akan membiarkannya melakukan apapun. Sebagian besar pekerjaan rumah tangga, kami berdua saling membantu. Jika badan ibu mertuaku lagi sehat, ia ingin membantu untuk melakukan sesuatu.

Setelah kelahiran anak laki-lakiku, kami mengajak bibi untuk datang membantu, dengan demikian ibu mertua juga ada teman.

Hari demi hari berlalu, 8 tahun kemudian, ibu mertuaku tiba-tiba sakit. Ia dirawat di hospital selama tiga bulan, dan pada akhirnya meninggal dunia.

Isteriku sangat sedih, ia minta izin bercuti kepada tempat kerja selama sebulan. Aku sendiri juga minta izin untuk menemaninya. Ketika sedang membereskan barang ibu mertuaku, kami menemukan satu buku tua. Isinya penuh dengan kata-kata dan agak berantakan.

Aku menemani isteriku membaca dari halaman pertama sampai halaman terakhir. Kami baru mengerti mengapa ibu mertuaku tidak pernah mau menyebutkan ayah isteriku.

Ternyata saat ibu mertuaku hamil, suaminya curang. Pada hari ibu mertuaku melahirkan isteriku, suaminya pindah ke rumah curangannya. Ibu mertuaku sama sekali tidak memiliki wang sesen pun. Suaminya tidak kembali walau sudah dicari kemanapun. Ibu mertuaku sangat sedih sampai mengalami pendarahan dan hampir meninggal. Pada akhirnya, kakak ibu mertuaku datang dan meminjamkan wang kepadanya.

Kerana tidak dapat menemukan suaminya, ibu mertua pun tinggal bersama ibunya. Namun, saudara iparnya bukanlah orang yang baik. Walaupun keluarga ibu mertuaku ingin mereka tinggal bersama, namun saudara iparnya merasa mereka terlalu berisik sehingga dipaksa pindah.

Dari situ, mereka hidup susah selama 10 tahunan. Setiap jalan yang dilalui meninggalkan darah dan air mata. Ibu mertua menulis di buku hariannya bahawa ia sering merasa tidak berdaya dan ingin membawa anaknya untuk membunuh diri. Namun, melihat ia hanyalah anak yang polos, apapun belum bernah ia lakukan, ia pun berusaha dan menyingkirkan pikirannya itu. Ibu mertua mulai bekerja apapun yang ia bisa. Makanya badannya pun perlahan-lahan menjadi tidak sehat.

Setelah selesai membaca buku tersebut, isteriku menangis parah, aku langsung memeluknya dan juga ikut menangis. Aku merasa tertekan dulu isteriku pernah hidup susah seperti ini.

3 bulan kemudian, aku melihat isteriku sedang berbicara dengan seseorang di bawah rumah. Melihat aku pulang, ia segera menarikku dan masuk ke dalam rumah. Matanya mulai berair sehingga aku tidak berani bertanya. Aku pun segera memasak.

Dua hari kemudian adalah hari sabtu, kami sedang beristirahat dirumah dan siap-siap mau membawa anak keluar jalan-jalan. Orang yang sama muncul lagi. Bedanya, lelaki tua itu menjadi lumpuh dan bertatih-tatih ke arah kami. Isteriku tidak meladeninya namun lelaki tua itu tidak menyerah dan terus menghadang kami.

Isteriku tidak tahan dan berkata, “Lebih baik jangan biarkan aku melihat kamu lagi, aku tidak peduli siapa kamu. Pokoknya, dari lahir aku tidak ada ayah, tidak sebelumnya, tidak sekarang, tidak masa depan.”

Ternyata, lelaki tua ini adalah ayah isteriku. Ayahnya pernah datang sebelum ibu mertuaku meninggal, hanya saja kami tidak tahu. Selama ini, ia tidak punya anak lagi. Semakin tua, kakinya semakin lemah. Dua anak dari curangannya bukan punyanya. Sehingga, mau tidak mau ia harus kembali mencari anak kandungnya, yaitu isteriku.

Isteriku marah dan menangis sambil mengutuknya. Akhirnya, ayahnya menyerah dan berjalan pincang menuju ke jalan besar. Isteriku menatapku dan bertanya, “Aku harus bagaimana? Aku tahu dia ayah kandungku. Namun, ibu juga pernah beritahu aku untuk tidak memperdulikan dia. Tapi sekarang keadaannya kasihan sekali. Walau aku benci dia, tapi aku juga tidak tega. Aku harus bagaimana?”

 

Aku menepuk punggung isteriku pelan-pelan dan membalas, “Apapun pilihanmu, aku akan selalu mendukung dan menemanimu.”

Pada akhirnya, kami menyewa rumah untuk ayahnya tinggal. Kami akan memberinya beras dan minyak, kadang-kadang kasih seratus ribu untuknya. Isteriku yang baik hati tidak tega melihat ayahnya seperti itu. Aku juga tidak berkomentar mengenai hal ini, asalkan isteriku bahagia, maka itu sudah lebih dari cukup.

Sumber: Happy

Reply